Rabu, 01 Mei 2013

Alat Peraga dan Media Pembelajaran


Alat Peraga dan Media Pembelajaran
Alat peraga merupakan alat yang digunakan untuk memperagakan sesuatu hal yang tidak dapat diamati langsung sehingga membutuhkan alat peraga untuk memudahkan penyampaian materi kepada siswa. Sedangkan, media pembelajaran merupakan media atau alat yang digunakan untuk mempermudah menyampaikan materi pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.Ada 3 jenis media :
1.      Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan.  Media visual yang terdiri dari :
·         Media diproyeksikan ( diam dan gerak ) dan tidak diproyeksikan. Media visual yang diproyeksikan merupakan media yang menggunakan alat proyeksi sehingga gambar atau tulisan nampak pada layar. Media visual bisa berbentuk media proyeksi diam, misalnya gamar diam dan media proyeksi gerak, misalnya gambar bergerak. Jenis alat proyeksi yang biasanya digunakan untuk kegiatan pembelajaran antara lain : OHP (over head projection), Slide projection, Opaque Projection, dan filmtrips.
·         Media visual tidak diproyeksikan terdiri dari : gambar fotografik, grafis, dan media tiga dimensi ( media realia dan media model ). 1). Gambar fotografik termasuk ke dalam gambar diam/mati., misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat yang berkaitan dengan isi / bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Gambar fotografik ada yang tunggal dan berseri. 2). Grafis merupakan media pandang dua dimensi yang dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan pesan pembelajaran. Jenis media grafis yang sering digunakan dalam kegiatan pembelajaran, antara lain grafik, bagan, diagram, poster, kartun, dan komik. 3). Media tiga dimensi terdiri atas media realia dan media model. Media realia merupakan model dan objek nyata suatu benda. Sedangkan media model merupakan tiruan dari beberapa objek nyata, Model terdiri dari beberapa jenis, yaitu model padat, model susun, model penampang, model kerja, mock-up dan diorama.
2.      Media Audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif ( yang dapat didengar ) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. Jenis media audio terdiri dari program kaset suara , CD audio (MP 3), dan program radio.
3.      Media Audio-Visual merupakan media kombinasi dari audio dan visual atau media pandang – dengar. Dalam batas-batas tertentu media ini dapat menggantikan peran dan tugas guru. Contoh dari media audio-visual antara lain, program video atau televisi pendidikan, program CD interaktif, dan program slide suara (soundslide).                                 

Daftar Pustaka           
Hermawan, Asep Herry, dkk. 2007. Media Pembelajaran Sekolah Dasar. Bandung: UPI PRES


PROTA, PROMES, KALDIK


PROTA, PROMES, KALDIK
Program Tahunan atau sering disebut dengan Prota adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun untuk mencapai tujuan (SK dan KD) yang telah ditetapkan. Dengan adanya prota, guru dapat merancang pengajaran yang akan dilakukan selama satu tahun dengan memperhatikan waktu secara efektif. Penetapan alokasi waktu diperlukan agar seluruh kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum seluruhnya dapat dicapai oleh siswa. Prota merupakan program umum untuk setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang berisi tentang garis-garis besar yang hendak dicapai selama satu tahun.
Prota dapat dikembangkan oleh guru masing-masing sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Pembuatan dan pengembangan prota dilakukan oleh guru sebelum tahun pelajaran dimulai karena prota merupakan hal penting dalam pembuatan dan pengembangan program-program selanjutnya yakni program semester, mingguan dan harian serta pembuatan silabus dan sistem penilaian komponen-komponen program tahunan meliputi identifikasi (satuan pendidikan, mata pelajaran, tahun pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, alokasi waktu dan keterangan). Dalam PROTA setidaknya terdapat komponen-komponen sebagai berikut : A) Identitas (mata pelajaran, kelas, tahun pelajaran). B) Format isian (semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, matei pokok, dan alokasi waktu).
Program Semester atau sering disebut dengan promes / prosem adalah program yang berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Promes hampir sama dengan prota yang membedakan hanya waktunya yaitu prota dalam satu tahun dan promes dalam satu semester. Promes tidak dapat dibuat atau disusun sebelum prota disusun karena promes merupakan penjabaran dari prota. Promes berisikan tentang bulan, pokok bahasan yang hendak disampaikan, waktu yang direncanakan, dan keterangan-keterangan.
Pada umumnya program semester ini berisikan:
  1. Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran)
  2. Format isian (standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, jumlah jam pertemuan (JJP), dan bulan).

Kalender Pendidikan atau sering disebut kaldik adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kaldik dibuat untuk mengatur kegiatan siswa pada minggu efektif untuk proses pembelajaran ataupun untuk mengadakan UTS, UAS maupun ulangan-ulangan tertentu dan saat libur sekolah. Kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, dan hari libur.
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Keterangan
1
Minggu efektif belajar
Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu
Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan
2
Jeda tengah semester
Maksimum 2 minggu
Satu minggu setiap semester
3
Jeda antar semester
Maksimum 2 minggu
Antara semester I dan II
4
Libur akhir tahun pelajaran
Maksimum 3 minggu

Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran
5
Hari libur keagamaan
2 – 4 minggu
Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif.
6
Hari libur umum/nasional
Maksimum 2 minggu

Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah.
7
Hari libur khusus
Maksimum 1 minggu
Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing.
8
Kegiatan khusus sekolah/madrasah
Maksimum 3 minggu

Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif.
 DAFTAR PUSTAKA : PPT Dosen

Asesmen Kinerja dan Asesmen Portofolio


 Asesmen Kinerja
Menurut Ari Widodo ( 2008 : 152 ) Asesmen Kinerja merupakan penilaian terhadap proses perolehan penerapan pengetahuan dan ketrampilan melalui proses pembelajaran yang menunjukan kemampuan siswa dalam proses dan produk. Asesmen kinerja memiliki tujuan untuk mengases unjuk kinerja siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas tertentu.
Pada prinsipnya asesmen kinerja menekankan pada proses keterampilan dan kecakapan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan. Asesmen kinerja cocok digunakan untuk menggambarkan proses kegiatan atau unjuk kerja yang dinilai melalui pengamatan terhadap siswa ketika melakukannya. Penilaian unjuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa selama melakukan kegiatan kerja bukan sebelum atau sesudah kerja.
Asesmen kinerja memberi peluang kepada guru untuk menilai pencapaian berbagai hasil pendidikan yang sebenarnya tidak dapat dijabarkan dalam tes tertulis. Dalam hal ini, guru dapat mengamati siswa saat sedang bekerja atau melakukan tugas belajar serta dapat menilai tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan. Evaluasi didasarkan pada kineja siswa dalam mencapai keunggulan prestasi. Hal yang harus dipahami tentang asesmen kinerja adalah desain dan pengembangan asesmen kinerja yang akan digunakan dalam kelas tertentu. Asesmen kinerja merupakan alat yang memberikan cara yang efektif dan efisien untuk menilai beberapa hasil dari proses pendidikan.
Berdasarkan cara melaksanakan asesmen kinerja dapat dikelompokkan menjadi:
1.      Asesmen Kinerja Klasik (mengases kinerja siswa secara keseluruhan dalam satu kelas)
2.      Asesmen Kinerja Kelompok (mengases kinerja siswa secara berkelompok)
3.      Asesmen Kinerja Individu (mengases kinerja siswa secara individu)
Dalam melaksanakan asesmen kinerja, guru dapat mengatur secara fleksibel kinerja-kinerja yang akan diakses dalam kurun waktu tertentu. Asesmen kinerja yang sering digunakan oleh guru yaitu asesmen kinerja individu. Ada tiga fase dalam melaksanakan asesmen kinerja, yaitu:
1.      Fase 1 : Mendefinisikan kinerja (menentukan jenis kinerja yang dinilai)
2.      Fase 2 : Mendesain latihan-latihan kinerja
3.      Fase 3 : Melakukan penskoran dan pencatatan hasil
Asesmen kinerja bersifat lugas (fleksibelitas) dalam pengembangan bagian-bagiannya, tetapi ada beberapa yang erlu diperhatikan yaitu ketika meninjau faktor-faktor konteks dalam rangka pengambilan keputusan tentang kapan mengadopsi metoda-metoda asesmen kinerja. Dalam asesmen kinerja, pemakai bebas memilih dari suatu rentang sasaran prestasi yang mungkin dan asesmen kinerja dapat difokuskan pada sasaran-sasaran khusus. Dalam penskoran sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang agar faktor objektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Penilaian unjuk kirja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek( ya/tidak ) atau skala rentang( baik sekali, baik, cukup ).
Contoh asesmen kinerja penilaian ceklist dalam menggunakan mikroskop :

No

Aspek Penilaian
Skala
Ya
Tidak
1
Mengatur pencahayaan
n

2
Memasang preparat

n
3
Memfokuskan bayangan benda
n





 Asesmen Portofolio
Menurut Ari Widodo ( 2008 : 158 ) Asesmen portofolio merupakan asesmen otentik yang menggambarkan kemajuan belajar siswa dengan bukti-bukti yang diseleksi bersama oleh siswa dan guru. Bukti yang dikumpulkan dalam portofolio merupakan hasil seleksi bersama antara siswa dan guru yang dianggap karya terbaik dan berarti bagi siswa. Kumpulan karya siswa yang akan dikumpulkan sebagai dokumen portofolio terlebih dahulu direview oleh guru, sehingga bersama guru,siswa dapat menentukan bukti-bukti nyata yang menggambarkan dirinya.
Portofolio sebagai asesmen otentik dapat digunakan sebagai :
Ø  Mendokumentasikan kemajuan siswa selama kurun waktu tertentu
Ø  Mengetahui bagian-bagian yang perlu diperbaiki
Ø  Membangkitkan kepercayaan diri dan motivasi untuk belajar
Ø  Mendorong tanggungjawab siswa untuk belajar
Keuntungan penerapan portofolio sebagai asesmen otentik antara lain sebagai berikut :
Ø  Kemajuan belajar siswa dapat terlihat dengan jelas
Ø  Menekankan pada hasil pekerjaan terbaik siswa serta memberikan pengaruh positif dalam belajar. Seleksi hasil karya terbaik siswa melibatkan siswa sehingga siswa merasa dihargai.
Ø  Membandingkan pekerjaan sekarang dengan yang lalu memberikan motivasi yang lebih besar daripada membandingkan dengan pekerjaan orang lain.
Ø  Siswa dilatih untuk menentukan pilihan karya terbaik
Ø  Memberikan kesempatan kapada siswa bekerja sesuai dengan perbedaan individu
Ø  Dapat menjadi alat komunikasi yang jelas tentang kemajuan belajar siswa kepada siswa itu sendiri, orang tua dan pihak yang lain yang terkait
Berikut ini adalah model portofolio IPA SD yang berisi contoh-contoh pekerjaan siswa :
1.   Hasil ulangan
4.   Laporan kelompok dan foto kegiatan siswa
2.Gambar-gambar dan laporan lisan
5.   Salinan piagam penghargaan
3. Produk berupa hasil pekerjaan proyek

Selanjutnya contoh-contoh pekerjaan tersebut disimpan didalam satu tempat khusus ( file folder ) untuk setiap siswa. Kujujuran siswa dalam melaporkan rekaman dan dokumentasi belajarnya serta kejujuran guru dalam menilai kemampuan siswa sesuai dengan kriteria yang telah disepakati merupakan syarat dilaksanakannya asesmen portofolio. Bentuk-bentuk asesmen portofolio, antara lain :
·         Catatan anekdotal, yaitu berupa lembaran khusus yang mencatat segala bentuk kejadian mengenai perilaku siswa, khususnya selama berlangsungnya proses pembelajaran.
·         Ceklis atau daftar cek, yaitu daftar yang telah disusun berdasarkan tujuan perkembangan yang hendak dicapai siswa.
·         Skala penilaian yang mencatat kemajuan perkembangan siswa.
·         Respon-respon siswa terhadap pertanyaan
·         Tes skrining untuk mengidentifikasi ketrampilan siswa setelah pengajaran dilakukan. Misalnya : PR, tes hasil belajar, dan LKS.
Langkah-langkah dalam penerapan portofolio :
1.      Tahap persiapan yang meliputi :
·         Menentukan jenis portofolio yang akan dikembangkan
·         Menentukan tujuan penyusunan portofolio
·         Memilih kategori-kategori pekerjaan yang akan dimasukkan portofolio
·         Meminta siswa untuk memilih tugas-tugas yang akan dimasukkan dalam portofolio
·         Guru mengembangkan rubrik ( kriteria penilaian ) untuk menyekor pekerjaan siswa.
2.      Mengatur portofolio : portofolio diatur sesuai kesepakatan selama satu semester
3.      Pemberian nilai akhir portofolio : aspek yang dinilai meliputi isi portofolio, dan kelengkapan portofolio.
Daftar Pustaka
Widodo, Ari. dkk. 2008. Pendidikan IPA di SD. Bandung : UPI Press